Minggu, 15 November 2015


Lampu Merah Renungan

Ini kisah tentang diriku,,
            Suatu ketika ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah, untuk menghilangkan kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada anak itu untuk memakukan sebuah paku di tembok belakang rumah setiap kali dia marah.
            Hari pertama anak itu sudah memakukan 48 paku di tembok belakang rumah, lalu secara bertahap jumlah itu berkurang, dia mendapati bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke tembok.
            Akhirnya tibalah hari dimana anak tersebut merasa sama sekali bisa mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya, dia memberitahukan hal ini kepada ayahnya yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap kali dia marah.
Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku telah tercabut olehnya, lalu sang ayah menuntun anaknya menuju ke tembok belakang rumah tersebut.
            “Hmmm..., kamu telah berhasil dengan baik anakku, tapi, lihatlah lubang-lubang di tembok ini, tembok ini tak akan pernah sama seperti sebelumnya, ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan, kata-katamu meninggalkan bekas seperti lubang ini.”
            Di hati orang lain, kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu tapi tidak peduli beberapa kali kamu meminta maaf, luka itu akan tetap ada, dan luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan hal fisik.
***
Sosok ayah ataupun anak diatas bukanlah diriku yang sebenarnya, mereka hanya sosok yang kujumpai dalam sebuah cerita di buku motivasi yang pernah kubaca saat SMA. Kuakui cerita itu sangat menarik perhatianku namun pada akhirnya aku tak mampu untuk menelaahnya dengan baik dalam kehidupanku sehari-hari.
Kisah diriku yang sebenarnya baru saja dimulai.
Hari itu, dari kejauhan lampu lalu lintas di perempatan itu masih menyala hijau, aku segera menarik gas motorku lebihku kencang, tak mau terlambat, apalagi aku tahu perempatan disitu cukup padat sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama.
Kebetulan jalan di depannya agak lengang, lampu berganti kuning, hatiku berdebar semoga aku bisa melewatinya segera, tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala.
Aku bimbang, haruskah aku berhenti atau terus saja, “Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak,” pikirku sambil terus melaju.
Pritt! Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintaku berhenti, aku menepikan motorku agak menjauh sambil mengumpat dalam hati, dari kaca spion aku melihat siapa polisi itu, wajahnya tak terlalu asing.
Hey, itu kan Rafa, teman mainku semasa SMA dulu, hatiku agak lega.
“Hai, Raf. Senang sekali ketemu kamu lagi.”
“Hai, Diazz.” Tanpa senyum.
“Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru, tunangan saya sedang menanti saya bersama keluarganya di rumah.”
“Oh ya?” Tampaknya Rafa ragu. “Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di pesimpangan ini.”
Sepertinya tidak sesuai harapan. Aku mulai menggerutu dalam hati. Aku punya kepentingan yang benar-benar mendesak kali ini. Dan sebenarnya ini adalah salah satu kelemahanku. Selalu merasa marah saat aku merasa orang lain tidak mengertikan diriku.
“Tolong keluarkan SIM.”
Dengan ketus aku meyerahkan SIM lalu duduk kembali di atas motorku.
Sementara Rafa menulis sesuatu di buku tilangnya, beberapa saat kemudian Rafa menghampiriku dan memberikan surat tilang kepadaku lalu beranjak pergi.
Aku mengambil surat tilang yang diberikan Rafa kepadaku. Tapi, hei apa ini. Ternyata SIM-nya dikembalikan bersama sebuah nota, kenapa ia tidak menilangku, lalu nota apa ini? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru aku membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Rafa.
Halo Diazz,
Tahukah kamu, 4 tahun lalu saat aku masih SMA aku masih memiliki seorang ibu. Sayang, beliau meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah. Saat itu adik-adikku masih kecil. Mereka masih belum pantas untuk kehilangan kasih sayang dari salah satu orang tua mereka terutama seorang ibu.
Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas ia bisa bertemu dengan sanak familinya lagi, sedangkan keluarga kami, bayangkan seberapa sulitnya mengasuh adik-adikku yang masih kecil-kecil, namun tak perduli seberapa susahnya ayahku menjadi seorang  single parent, beliau terus berjuang mengayomi kami.
Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu, betapa sulitnya, begitu juga kali ini. Maafkan aku Diazz, berhati-hatilah dalam mengemudi.
-Rafa
Aku terhenyak, aku segera meninggalkan motorku mencari Rafa, namun Rafa sudah meninggalkan pos jaganya entah kemana. Sepanjang jalan pulang aku mengemudi perlahan dengan hati tak tentu sambil berharap kesalahanku dimaafkan.
Hari ini aku belajar bila tak semua kisah sukses ataupun kisah baik seseorang yang kita baca atau yang kita dengarkan dapat kita telaah dengan baik tanpa perlu kita sendiri yang mengalaminya. Tak selamanya juga pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa jadi suka kita tak lebih dari duka kawan kita. Hidup ini sangat berharga. Jalanilah dengan penuh hati-hati serta lakukanlah sesuatu dengan setulus hati.

By: Ilham Diazz Randiall

Bagikan

Jangan lewatkan

4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.

3 komentar

Tulis komentar
avatar
15 November, 2015 20:50

Judule kurang menarik eh

Reply
avatar
16 November, 2015 17:59

bagus. renungannya simple, sering terjadi, dan ngena di hati.
perlu beberapa perbaikan dalam penulisan pada paragraf ke-8 (kalau nggak keliru :) )
seperti....
motorku lebihku kencang. seharusnya ->> motorku lebih kencang.
perempatan disitu. seharusnya ->> perempatan di situ.
^_^

Reply