Selasa, 17 November 2015

PUISI

Desir peluru masih pekat di memori otakku
Suara kaku yang sekejap mampu melumatkan tulang-tulangku
Kala itu . . .
Saat aku tak mampu lagi memutar waktu
Saat aku berjuang menjejak singa-singa lapar itu
Singa kejam perusak bangsaku
Kala itu . . .
Saat kabut menyelimuti senyum merah putihku
Saat kekejaman merampas hak dan kebebasanku
Tapi . . . apalah dayaku?
Inilah aku, tikus kecil yang tak berdaya
Yang tak mampu menerkam singa lapar itu
Inilah aku, satu dari seribu insan yang rubuh di kala itu
Hanya setumpah darah, dan segores luka
Semampu kaki dan sekuat raga
Yang mampu ku persembahkan padamu
Indonesiaku . . .
                                                                           OLEH: NANDA AYU EKA SAFITRI




Bagikan

Jangan lewatkan

PUISI
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.