Kamis, 26 November 2015

Lara Raka Part II


            Raka sedang merapikan tali sepatunya di ruang seni sekolah. Ia baru saja berlatih bersama personil band nya untuk persiapan acara Pensi minggu depan.
            “Bro, kita duluan ya. Loe beneran gak jadi ikut kan hang out bareng?” Seru Alga si vokalis band nya.
            Raka mendongakkan kepalanya. “Iya bro, gue masih ada acara keluarga dirumah bentar lagi. Sorry, kalo gue gak bisa ikut sekarang.”
            “Siip, oke dah. Salam sama adek lo yang manis itu. Hehe.” Balas Alga diiringi siulan para personil band D’finalist.
            “Haha. Bisa aja lu bro. Oke dah.”

            Mungkin kau bertanya-tanya
            Arti perhatianku terhadapmu
            Pasti kau menerka-nerka
            Apa yang tersirat dalam benakku

            Suara indah dari Naga, vokalis grup band Lyla membuat Raka meraih ponselnya. Dilihatnya sebuah nomor baru tertera dilayar ponsel. Tanpa membuang waktu ia menekan tombol hijau.
            “Sob.” Sebuah sapaan ringan dari seberang telfon yang ia hafal.
            Raka mengerutkan kening. “Iya, ini siapa?”
            Sunyi sejenak. Tiada jawaban dari seberang. Membuat Raka menjadi penasaran.
            “Halo.” Tukasnya lagi. “Ini Indi tah?” Raka berusaha menebak.
            Pertanyaan itu mengena. Terdengar sahutan dari seberang telfon. “Iya sob, ini aku Indi. Gimana punya kabar?”
            Hilang sudah rasa penasaran Raka. Namun benaknya kembali berputar. Sudah lama Indi tidak menghubunginya. Sang mantan yang kini telah menjadi sahabatnya. Sang mantan yang sebenarnya selalu ia rindukan untuk dapat kembali bersama. Ada apa gerangankah saat ini sehingga Indi menghubunginya lagi. Apakah karena desas-desus yang didengarnya tentang pacar Indi yang ketahuan selingkuh kemarin. Entah Raka tak tahu.
            “Sob, kamu kok diem?” Suara Indi lagi, menyadarkan Raka.
            Raka terbangun dari lamunannya. “Eh, iya. Syukurlah aku baik-baik aja. Kok tumben kamu ngehubungin aku?” Singakat Raka menjawab.
            “Emh, yah, gak ada. Cuma pengen ngehubungin kamu aja. Lagian udah lama aku gak pernah ngomong sama kamu lagi.”
            Raka mengangguk-angguk. “Oh gitu, kirain ada apa.”
            “Iya, oh ya, aku udah baca cerpen kamu di mading sekolah kemarin yang judulnya Lara Raka. Hmz, semua cerpen kamu yang dimuat bagus-bagus Ka.” Ucap Indi membuka topik.
            Lara Raka? Cerpen itu kan....
            Raka teringat akan cerpen yang dibuatnya. “Oalah, enggak kok Indi, cerpen nya aku biasa-biasa aja. Oh iya, kalo boleh bilang. Tentang cerpen yang Lara Raka, itu……. itu kisah tentang kita Indi. Tentang aku, kamu, dan dia. Maafin aku ya kalo sekiranya kamu tersinggung”
            Suasana hening sejenak.  Seperti balok es yang mencair perlahan. Indi tak menyangka bila Raka mengungkakan tentang itu. “Tanpa kamu bilang aku sudah merasakan sob. Waktu aku baca cerpen kamu, aku langsung kaget. Kok kayak yang pernah aku alamin. Hmz. Enggak kok gak pa-pa. Aku gak tersinggung.”
            Raka menghembuskan nafas lega. “Syukurlah kalo kamu gak tersinggung. Aku takutnya kamu marah gara-gara udah bikin cerpen tentang kisah kita.”
            “Tapi, aku pengen tau Ka alasan kamu kenapa kamu buat cerpen itu?”
            Raka terkaget tak menduga bila Indi akan menanyakan alasannya. “Hah, alasan aku buat cerpen itu, ya supaya kamu inget aja sama kisah kita.”
            “Iya ngerti, tapi buat apa kamu harus ngingetin aku? Bukannya itu udah lama banget?” Tanya Indi lagi.
            Pertanyaan Indi lagi-lagi membuat fikiran Raka berkecamuk. Detak jantungnya meningkat tajam.  Raka terdiam, ia berusaha menjawab meski banyak sekali beban fikiran yang terkumpul di benaknya. “Jujur, Alasan aku itu cuma pengen ngingetin kamu lagi tentang kisah kita. And itu karena aku masih selalu berharap sama kamu lagi Indi. Meskipun aku sangat-sangat tau kalo kamu udah sama dia.”
            Saat itu pula Indi mendesah. Kini giliran Indi yang tak menyangka bila Raka masih selalu menyimpan rapi perasaannya selama ini. Tiba-tiba ia bertanya lirih. “Apa yang kamu lihat dari aku Ka? And apa yang kamu pengenin dari aku?”
            Raka mengepalkan tangannya. Mengumpulkan segenap kekuatannya untuk mengungkap segala hal tentang Indi yang menyiksa. “Aku gak tau Indi, bagi aku kamu sempurna. Kalo kamu mau tau apa yang aku pengen dari kamu. Aku cuma pengen mencintai dan dicintai kamu. Sampai kita lupa, sampai kita lupa buat berpisah Indi. Gak seperti dulu saat kamu pergi dari aku!”
            Indi menggelengkan kepala. “Aku udah sama dia Raka. Aku tau kalo perasaan kamu besar banget buat aku. Tapi sampai kapan kamu mau nungguin aku? Apa kamu gak capek? Apa kamu kuat?” Cecar Indi lagi.
            “Huft.” Raka menghela nafas. “Aku terlalu tulus menyayangi kamu Indi. And itu yang bikin perasaan aku gak pernah mati buat kamu, meskipun kamu udah pergi dari aku. Selama ini aku cuma terbiasa. Aku cuma terbiasa hidup tanpa kamu disisi!”
            Detik membeku kembali, seperti melebarkan jarak waktu dalam ilusi, selepas Raka mengungkapkan semua beban dalam hatinya. Indi pun tak mampu berkata apa-apa lagi. Hati kecilnya berkata bila apa yang dikatakan Raka jujur apa adanya.
            Maafin aku Ka.... maaf kalo aku gak bisa lagi ngebales perasaan kamu saat ini...
            Indi berusaha mengelak. “Hmz, Ya udah, kita bahas lagi nanti. Aku udahin dulu telfonnya.”
            Klik. Tombol merah dipencet sudah. Tanpa bisa Raka cegah. Kini, ditempat yang berbeda mereka sama-sama menghela nafas panjang memikirkan sesuatu terpendam yang baru saja terungkap.

Description: Description: Description: C:\Program Files\Microsoft Office\MEDIA\OFFICE14\Bullets\BD14581_.gif

            23 Mei, 2015.
            Sabtu malam minggu itu acara Pensi digelar. Indi datang bersama kekasihnya, Ayas. Mereka tiba saat D’finalist band baru saja selesai menyanyikan lagu pertama dari Hoobastank, The Reason. Ayas pun mengajak Indi untuk menari bersama di depan pentas.
            Saat di depan pentas, Indi melihat Raka yang tengah mendekati Alga sang vokalis. Entah apa yang Raka bisikkan, sehingga membuat Alga mengangguk dan kemudian mundur kebelakang menggantikan posisi Raka sebagai gitaris.
            Raka membenarkan posisi mikrofonnya. Kemudian ia berseru. “Malam ini saya ingin mendedikasikan sebuah lagu untuk seseorang yang sangat penting dalam kehidupan saya. Sehingga ia mampu membuat saya menahan rasa malu untuk bisa berdiri disini. Jadi saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebenar-benarnya.”
            Tepuk tangan dan seru-seruan dari para penonton menyambut sambutan Raka. “Mulai, nyanyi, nyanyi nyanyi!”
            Raka memejamkan mata. Menghembuskan nafas dalam-dalam kemudian memulai lagunya.

            Aku sudah berlari,,
Mengejar yang tak pasti,,
Mengejar kamu, hanya dirimu,, 
  
Lagu dari Nidji, Biarlah yang diiringi oleh musik yang sedikit menghentak membuat para penonton tak menyadari bila itu adalah sebuah lagu sedih.  Saat itu Ayas mengajak Indi untuk menari. Namun Indi tidak bergeming. Ia hanya menatap Raka yang sedang bernyanyi sehingga Ayas pun membiarkannya.

Kulantunkan hidupku,,
Kubisikkan cintaku,,
Hanya untukmu, hanya untukmu,,

Tiba-tiba Indi bergerak kedepan mencoba menyeruak kerumunan penonton. Entah kekuatan apa yang merasuki Indi saat itu. Dan saat itu pula Raka menatap Indi yang telah sampai di depan pentas. Indi mendongakkan kepala mencari sosok Raka. Membuat mereka berdua saling bertatapan.

Tapi engkau terus pergi,,
Tapi engkau terus berlari..
Jadi biarkanlah aku disini...
Biarlah kurela melepasmu, meninggalkan aku,,
Berikanlah aku kekuatan, untuk lupakanmu...

Raka masih terus menatap Indi sembari bernyanyi tanpa merasa jengah.
“Aku nyanyiin lagu ini buat kamu Indi. Biar kamu tau kalo jalan ini yang aku pilih setelah aku berfikir sejenak. And aku gak pengen ngeganggu hubungan kalian. Makasih udah hadir saat ini. Saat dimana aku bisa menyiratkan kata hati aku ini buat kamu....”
Disaat itu juga. Seperti mendengar kata hati Raka. Indi bergumam.
Kalo emang ini keputusan kamu Ka. Makasih banget. Makasih udah mencintai aku selama ini. Tapi yang paling harus kamu tau. Kalo aku gak pernah sedikitpun pengen ngebuat kamu terluka gara-gara aku.”

Kau jauh dariku,,
Kau tetap menjauh dari aku......

The End

By: Ilham Diazz Randiall

Bagikan

Jangan lewatkan

Lara Raka Part II
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.