Rara menatap Mia
yang sedang tidur di ranjang rumah sakit tempat ia dirawat. Perasaannya tak menentu
saat ini. Sahabatnya akan meraih
kebahagiaannya,
sementara ia akan kehilangan orang yang dicintanya.
Mia terbangun
dari tidurnya. Pandangan mereka pun bertemu.
“Apa yang sedang
kau lakukan disini?”
“Aku..”
“Apakah kau
kemari akan membunuhku? Kau akan membekapku dengan bantal? Apa kau akan
menusukku dengan pisau buah itu? Atau, kau mau meracuniku dengan makanan yang
kau bawa?”
“Mia, aku..”
“Apa? Bukankah
kau orang yang tidak setuju akan pernikahanku dengan Davin? Jadi, apalagi yang
akan kau lakukan kemari selain menggagalkan pernikahanku? Ha?”
“Mia tolong
dengarkan aku dulu.”
“Untuk apa aku
mendengarkan kata-kata seseorang yang tidak ingin sahabatnya bahagia?”
“Mia” Rara hanya
berujar pelan dengan menahan tangisnya.”
“Pergi dari
sini! Menjauhlah! Kau hanya akan mengganggu hubunganku dengan Davin!”
“Mia, ini tidak
seperti yang kau pikirkan.” Bantah Rara
“Aku bilang
pergi!”
“Mia tenangkan
dirimu sayang.” Ucap ibu Mia setelah beranjak dari kursinya. “Rara, maafkan
Bibi, biarkan Mia tenang dulu.”
Rara mengangguk, dengan tangisnya ia pun
keluar dari kamar Mia.
Rara,
dia pasti akan menghalangi pernikahanku dengan Davin. Aku tahu bagaimana dia
menyayangiku sebagai sahabatnya, tapi jika untuk orang yang dicintainya,
akankah dia melepasnya untukku juga? Aku harus melakukan sesuatu agar
pernikahanku bisa berlangsung dengan Davin. Aku tidak ingin ada penganggu.
Tidak, bukan hanya di hari pernikahanku saja. Untuk kehidupanku bersama Davin
ke depan, aku juga harus melindunginya. Dan itu berarti.. .
“Ibu”
“Iya sayang?”
“Aku ingin ibu
melakukan sesuatu sebelum pernikahanku dilangsungkan.”
Rara, Mia, dan
Davin sudah bersahabat sejak kecil. Sejak SD mereka bersekolah di tempat yang
sama. Mereka mulai berpisah saat kuliah. Rara dan Mia kuliah di kota tempat
mereka tinggal, sementara Davin memilih untuk kuliah di luar kota.
Rara adalah
seorang penulis. Gadis cantik yang lemah lembut, ramah, peduli, baik hati, dan
mampu menyejukkan hati orang-orang yang
bersamanya. Mia, dengan kulitnya yang putih, tubuhnya yang tinggi dan langsing,
serta wajahnya yang amat cantik sukses menjadi seorang model. Ia sedikit egois, manja, selalu berusaha
terlihat lebih baik dari Rara, tapi dia menjadi orang yang selalu ada untuk
kedua sahabatnya. Davin, pria tampan dengan hidungnya yang mancung, tinggi, dan
berkulit putih. Meski agak cuek ia menjadi idaman banyak wanita. Selepas kuliah ia mengembangkan bisnis
keluarganya. Perpisahan
dengan sahabatnya saat kuliah membuatnya sadar akan perasaannya kepada kedua
sahabatnya. Terlebih kepada Rara. Ia sering merindukan saat-saat bersama Rara
yang menyejukkan hatinya, yang membuatnya tentram.
Setelah bisa
berkumpul bersama lagi, rupanya rasa persahabatan mereka tidak hilang. Bahkan
rasa cinta yang menyusup diantara hubungan persahabatan mereka semakin menguat.
Rara dan Mia sama-sama mencintai Davin. Dan mereka berdua tahu akan hal itu. Rara
yang begitu menyayangi Mia tidak ingin sahabatnya terluka, terlebih setelah
mengetahui Mia mengidap leukimia.
Suatu hari saat
mereka sedang berkumpul di rumah Mia, tiba-tiba penyakit Mia kambuh. Ia harus
masuk rumah sakit lagi. Penyakitnya semakin parah, dan itu artinya kesempatan
Davin dan Rara untuk bersama-sama dengan Mia semakin berkurang.
“Kalian sangat
beruntung.” Ucap Mia kepada kedua sahabatnya setelah beberapa saat dia sadar.
“Kalian bisa hidup bahagia lebih lama dari pada aku.”
“Mia jangan
berkata seperti itu. Setiap orang mendapatkan kebahagiaannya masing-masing. Tuhan itu
adil. Kita akan bersama-sama. Bahagia bersama-sama”
Ucap Rara.
“Diusiaku yang tidak lama lagi? Dapatkah?”
“Tentu saja.”
“Aku ada permintaan terakhirku.”
“Katakanlah Mia,
apa yang bisa kami lakukan untukmu.” Rara benar-benar berharap ia bisa membuat
sahabatnya bahagia.
“Davin,
nikahilah aku.”
Hening. Davin
dan Rara terpaku. Tidak menyangka
Mia akan
melakukan ini. Orang tua Mia pun juga terkejut dengan apa yang baru saja Mia
katakan.
“Davin?” tegur
Mia saat Davin tak kunjung memberikan jawaban.
“Mia, kau..”
Davin sulit berkata-kata saat melihat tatapan Mia yang mengatakan kau tidak
bisa menolak.
“Kau menolak
Davin?” tatapan Mia pun beralih pada Rara. “Bagaimana menurutmu Rara?” Mia
mengambil nafas sejenak. “Itu yang aku ingin kalian lakukan. Kalian ingin aku
bahagia bukan? Tapi sepertinya sekarang kalian berpikir lebih baik aku segera
pergi saja.”
“Mia.” Ucap
Davin menahan amarahnya.
Rara tidak tau
harus berkata apa. Hatinya hancur berkeping-keping. Dia pun memutuskan untuk
pergi tanpa berkata apa-apa.
Hari ini adalah
hari pernikahan Davin dan Mia. Sesuai permintaan Mia, pernikahan akan
dilangsungkan di rumah sakit. Rara harus datang. Ada perasaan senang karena Mia mengundangnya untuk hadir.
Itu berarti Mia masih mengingatnya dan mengijinkannya untuk hadir di hari
bahagianya. Tentu saja ia akan merasa
sakit, tapi bukankah ia ingin sahabatnya berbahagia?
Setelah
memarkirkan mobilnya, Rara ingin cepat-cepat menuju ke kamar tempat Mia
dirawat. Ia ingin acara cepat dimulai sehingga akan cepat selesai dan ia bisa
segera pergi jauh dari kehidupan kedua sahabatnya itu. Ya, itu yang dia
inginkan. Tetapi sepertinya akan lebih buruk lagi yang akan terjadi, karena tiba-tiba ada orang yang
membekapnya dari belakang. Orang itu membawanya menjauh dari kamar Mia. Seseorang menculiknya!
Davin terlihat semakin tampan dengan balutan
jas hitamnya. Dengan gaun putihnya Mia tetap terlihat cantik meskipun wajahnya
pucat. Senyum senantiasa terkembang di wajahnya walaupun ia tetap terbaring di
ranjang.
“Davin, terimakasih
kau mau memenuhi
permintaanku. Aku benar-benar menyayangimu.”
Davin tersenyum,
ia pun menggenggam tangan Mia.
“Iya Mia. Dan
aku juga menyayangimu.”
Terlihat ibu Mia
mendapat telfon singkat dari seseorang. Beliau pun berkata pada Davin dan Mia,
“Acaranya akan segera dimulai.”
Sesaat kemudian ada 2 orang
bodyguard yang menggiring seorang perempuan dengan mata tertutup untuk masuk ke
dalam kamar Mia.
Davin tersenyum.
Ia terlihat begitu cantik, pikir Davin. Ia segera beranjak dan meraih tangan
Rara, tidak ingin tangan halus Rara lama-lama dikuasai oleh bodyguard keluarga
Mia. Ya, gadis cantik dengan mata tertutup dan telah mengenakan gaun pengantin
putih itu adalah Rara.
Davin melepas
kain yang menutup mata Rara. Setelah bisa membuka matanya, bergelut tanya di
benak Rara.
“Rara, maukah
kau menikah denganku?”
Belum terjawab
pertanyaan di benaknya, justru Davin melontarkan pertanyaan yang membuat
jantungnya serasa ingin meledak. Ia melihat sekeliling. Melihat Mia yang
tersenyum, ia langsung berlari ke arah Mia dan memeluknya erat.
“Mia, apa yang
terjadi?” tanya Rara dengan menangis.
“Hei, kau harus
segera melangsungkan pernikahanmu.” Seru Mia sambil menepuk-nepuk punggung
sahabatnya.
“Kau tahu apa yang kau lakukan?”
“Iya Rara. Inilah keinginan terakhirku, bahagia
melihat kalian bersama.”
“Kita akan selalu bersama Mia.” Tangis Rara semakin
pecah
Davin pun mendekat memeluk kedua sahabatnya.
“Aku tahu Davin sangat mencintaimu. Kalian selalu
menjadi yang terbaik untukku. Aku ingin sebelum aku pergi aku bisa menjadi
orang yang berarti untuk kalian. Selama ini aku hanya merepotkan kalian. Aku
sering tidak memperdulikan perasaan kalian, memaksa kalian melakukan sesuatu
karena penyakitku ini.”
“Mia, kau selalu ada untuk kami. Kau selalu bersedia
mengkritik tulisanku agar bisa lebih baik lagi, kau selalu menjadi editorku.
Kau juga bersedia lari kesana kemari untuk membantu bisnis Davin.”
“Dan untuk melakukan itu bahkan kau meninggalkan
tawaran modelmu.” Imbuh Davin.
Mia tersenyum kecil.
“Aku hanya senang melakukannya. Maaf aku sempat
membuatmu sedih Rara. Aku benar-benar gila, awalnya aku berpikir untuk
menyingkirkanmu entah kemana. Tapi aku sadar, ibu juga mengingatkanku tentang
apa yang telah kita lalui, tentang pengorbanan perasaanmu untukku. Akan sangat
konyol jika dengan usiaku yang tidak lama lagi aku melakukan hal yang tidak
manusiawi. Dan Davin, maaf aku telah mengejutkanmu.”
Davin dan Mia sama-sama tersenyum, sementara Rara
bingung dengan kalimat terakhir Mia.
“Malam setelah Mia mengungkapkan permintaannya, Paman
dan Bibi ke rumahku Rara.” Davin menjelaskan. “Aku pikir mereka akan memohon
kepadaku untuk menikahi Mia. Tapi ternyata mereka ingin melakukan sesuatu yang memang
ingin ku lakukan. Dan Mia ingin membuat kejutan untukmu.”
Lagi-lagi Rara memeluk Mia. Dia tidak menyangka Mia
akan melakukan hal sebesar ini. Perasaan mereka saat ini sama-sama mengakui
bahwa mereka benar-benar memiliki sahabat yang terbaik.
“Ayo, aku ingin segera melihat kalian menikah.” Ucap
Mia dengan melepas pelukan Rara.
Akhirnya Rara resmi menjadi milik Davin. Mia
benar-benar bahagia melihat senyum mengembang di wajah kedua sahabatnya. Dia pun
bisa pergi dengan tenang.
Tak selamanya manis
Pahit yang memanggil
kerelaan
Yang membuahkan kesadaran
Kelak menguak manis yang
teredam
Nur Aningsih
Bagikan
Bitter Sweet
4/
5
Oleh
Unknown
