Senin, 16 November 2015

Bitter Sweet


Bitter Sweet

Rara menatap Mia yang sedang tidur di ranjang rumah sakit tempat ia dirawat. Perasaannya tak menentu saat ini. Sahabatnya akan meraih kebahagiaannya, sementara ia akan kehilangan orang yang dicintanya.
Mia terbangun dari tidurnya. Pandangan mereka pun bertemu.
“Apa yang sedang kau lakukan disini?”
“Aku..”
“Apakah kau kemari akan membunuhku? Kau akan membekapku dengan bantal? Apa kau akan menusukku dengan pisau buah itu? Atau, kau mau meracuniku dengan makanan yang kau bawa?”
“Mia, aku..”
“Apa? Bukankah kau orang yang tidak setuju akan pernikahanku dengan Davin? Jadi, apalagi yang akan kau lakukan kemari selain menggagalkan pernikahanku? Ha?”
“Mia tolong dengarkan aku dulu.”
“Untuk apa aku mendengarkan kata-kata seseorang yang tidak ingin sahabatnya bahagia?”
“Mia” Rara hanya berujar pelan dengan menahan tangisnya.”
“Pergi dari sini! Menjauhlah! Kau hanya akan mengganggu hubunganku dengan Davin!”
“Mia, ini tidak seperti yang kau pikirkan.” Bantah Rara
“Aku bilang pergi!”
“Mia tenangkan dirimu sayang.” Ucap ibu Mia setelah beranjak dari kursinya. “Rara, maafkan Bibi, biarkan Mia tenang dulu.”
Rara mengangguk, dengan tangisnya ia pun keluar dari kamar Mia.
Rara, dia pasti akan menghalangi pernikahanku dengan Davin. Aku tahu bagaimana dia menyayangiku sebagai sahabatnya, tapi jika untuk orang yang dicintainya, akankah dia melepasnya untukku juga? Aku harus melakukan sesuatu agar pernikahanku bisa berlangsung dengan Davin. Aku tidak ingin ada penganggu. Tidak, bukan hanya di hari pernikahanku saja. Untuk kehidupanku bersama Davin ke depan, aku juga harus melindunginya. Dan itu berarti.. .
“Ibu”
“Iya sayang?”
“Aku ingin ibu melakukan sesuatu sebelum pernikahanku dilangsungkan.”

Rara, Mia, dan Davin sudah bersahabat sejak kecil. Sejak SD mereka bersekolah di tempat yang sama. Mereka mulai berpisah saat kuliah. Rara dan Mia kuliah di kota tempat mereka tinggal, sementara Davin memilih untuk kuliah di luar kota.
Rara adalah seorang penulis. Gadis cantik yang lemah lembut, ramah, peduli, baik hati, dan mampu menyejukkan  hati orang-orang yang bersamanya. Mia, dengan kulitnya yang putih, tubuhnya yang tinggi dan langsing, serta wajahnya yang amat cantik sukses menjadi seorang model. Ia sedikit egois, manja, selalu berusaha terlihat lebih baik dari Rara, tapi dia menjadi orang yang selalu ada untuk kedua sahabatnya. Davin, pria tampan dengan hidungnya yang mancung, tinggi, dan berkulit putih. Meski agak cuek ia menjadi idaman banyak wanita. Selepas kuliah ia mengembangkan bisnis keluarganya. Perpisahan dengan sahabatnya saat kuliah membuatnya sadar akan perasaannya kepada kedua sahabatnya. Terlebih kepada Rara. Ia sering merindukan saat-saat bersama Rara yang menyejukkan hatinya, yang membuatnya tentram.
Setelah bisa berkumpul bersama lagi, rupanya rasa persahabatan mereka tidak hilang. Bahkan rasa cinta yang menyusup diantara hubungan persahabatan mereka semakin menguat. Rara dan Mia sama-sama mencintai Davin. Dan mereka berdua tahu akan hal itu. Rara yang begitu menyayangi Mia tidak ingin sahabatnya terluka, terlebih setelah mengetahui Mia mengidap leukimia.

Suatu hari saat mereka sedang berkumpul di rumah Mia, tiba-tiba penyakit Mia kambuh. Ia harus masuk rumah sakit lagi. Penyakitnya semakin parah, dan itu artinya kesempatan Davin dan Rara untuk bersama-sama dengan Mia semakin berkurang.
“Kalian sangat beruntung.” Ucap Mia kepada kedua sahabatnya setelah beberapa saat dia sadar. “Kalian bisa hidup bahagia lebih lama dari pada aku.”
“Mia jangan berkata seperti itu. Setiap orang mendapatkan kebahagiaannya masing-masing. Tuhan itu adil. Kita akan bersama-sama. Bahagia bersama-sama” Ucap Rara.
Diusiaku yang tidak lama lagi? Dapatkah?”
“Tentu saja.”
Aku ada permintaan terakhirku.”
“Katakanlah Mia, apa yang bisa kami lakukan untukmu.” Rara benar-benar berharap ia bisa membuat sahabatnya bahagia.
“Davin, nikahilah aku.”
Hening. Davin dan Rara terpaku. Tidak menyangka Mia akan melakukan ini. Orang tua Mia pun juga terkejut dengan apa yang baru saja Mia katakan.
“Davin?” tegur Mia saat Davin tak kunjung memberikan jawaban.
“Mia, kau..” Davin sulit berkata-kata saat melihat tatapan Mia yang mengatakan kau tidak bisa menolak.
“Kau menolak Davin?” tatapan Mia pun beralih pada Rara. “Bagaimana menurutmu Rara?” Mia mengambil nafas sejenak. “Itu yang aku ingin kalian lakukan. Kalian ingin aku bahagia bukan? Tapi sepertinya sekarang kalian berpikir lebih baik aku segera pergi saja.”
“Mia.” Ucap Davin menahan amarahnya.
Rara tidak tau harus berkata apa. Hatinya hancur berkeping-keping. Dia pun memutuskan untuk pergi tanpa berkata apa-apa.

Hari ini adalah hari pernikahan Davin dan Mia. Sesuai permintaan Mia, pernikahan akan dilangsungkan di rumah sakit. Rara harus datang. Ada perasaan senang karena Mia mengundangnya untuk hadir. Itu berarti Mia masih mengingatnya dan mengijinkannya untuk hadir di hari bahagianya. Tentu saja ia akan merasa sakit, tapi bukankah ia ingin sahabatnya berbahagia?
Setelah memarkirkan mobilnya, Rara ingin cepat-cepat menuju ke kamar tempat Mia dirawat. Ia ingin acara cepat dimulai sehingga akan cepat selesai dan ia bisa segera pergi jauh dari kehidupan kedua sahabatnya itu. Ya, itu yang dia inginkan. Tetapi sepertinya akan lebih buruk lagi yang akan terjadi, karena tiba-tiba ada orang yang membekapnya dari belakang. Orang itu membawanya menjauh dari kamar Mia. Seseorang menculiknya!

Davin terlihat semakin tampan dengan balutan jas hitamnya. Dengan gaun putihnya Mia tetap terlihat cantik meskipun wajahnya pucat. Senyum senantiasa terkembang di wajahnya walaupun ia tetap terbaring di ranjang.
“Davin, terimakasih kau mau memenuhi permintaanku. Aku benar-benar menyayangimu.”
Davin tersenyum, ia pun menggenggam tangan Mia.
“Iya Mia. Dan aku juga menyayangimu.”
Terlihat ibu Mia mendapat telfon singkat dari seseorang. Beliau pun berkata pada Davin dan Mia, “Acaranya akan segera dimulai.”
Sesaat kemudian ada 2 orang bodyguard yang menggiring seorang perempuan dengan mata tertutup untuk masuk ke dalam kamar Mia.
Davin tersenyum. Ia terlihat begitu cantik, pikir Davin. Ia segera beranjak dan meraih tangan Rara, tidak ingin tangan halus Rara lama-lama dikuasai oleh bodyguard keluarga Mia. Ya, gadis cantik dengan mata tertutup dan telah mengenakan gaun pengantin putih itu adalah Rara.
Davin melepas kain yang menutup mata Rara. Setelah bisa membuka matanya, bergelut tanya di benak Rara.
“Rara, maukah kau menikah denganku?”
Belum terjawab pertanyaan di benaknya, justru Davin melontarkan pertanyaan yang membuat jantungnya serasa ingin meledak. Ia melihat sekeliling. Melihat Mia yang tersenyum, ia langsung berlari ke arah Mia dan memeluknya erat.
“Mia, apa yang terjadi?” tanya Rara dengan menangis.
“Hei, kau harus segera melangsungkan pernikahanmu.” Seru Mia sambil menepuk-nepuk punggung sahabatnya.
“Kau tahu apa yang kau lakukan?”
“Iya Rara. Inilah keinginan terakhirku, bahagia melihat kalian bersama.”
“Kita akan selalu bersama Mia.” Tangis Rara semakin pecah
Davin pun mendekat memeluk kedua sahabatnya.
“Aku tahu Davin sangat mencintaimu. Kalian selalu menjadi yang terbaik untukku. Aku ingin sebelum aku pergi aku bisa menjadi orang yang berarti untuk kalian. Selama ini aku hanya merepotkan kalian. Aku sering tidak memperdulikan perasaan kalian, memaksa kalian melakukan sesuatu karena penyakitku ini.”
“Mia, kau selalu ada untuk kami. Kau selalu bersedia mengkritik tulisanku agar bisa lebih baik lagi, kau selalu menjadi editorku. Kau juga bersedia lari kesana kemari untuk membantu bisnis Davin.”
“Dan untuk melakukan itu bahkan kau meninggalkan tawaran modelmu.” Imbuh Davin.
Mia tersenyum kecil.
“Aku hanya senang melakukannya. Maaf aku sempat membuatmu sedih Rara. Aku benar-benar gila, awalnya aku berpikir untuk menyingkirkanmu entah kemana. Tapi aku sadar, ibu juga mengingatkanku tentang apa yang telah kita lalui, tentang pengorbanan perasaanmu untukku. Akan sangat konyol jika dengan usiaku yang tidak lama lagi aku melakukan hal yang tidak manusiawi. Dan Davin, maaf aku telah mengejutkanmu.”
Davin dan Mia sama-sama tersenyum, sementara Rara bingung dengan kalimat terakhir Mia.
“Malam setelah Mia mengungkapkan permintaannya, Paman dan Bibi ke rumahku Rara.” Davin menjelaskan. “Aku pikir mereka akan memohon kepadaku untuk menikahi Mia. Tapi ternyata mereka ingin melakukan sesuatu yang memang ingin ku lakukan. Dan Mia ingin membuat kejutan untukmu.”
Lagi-lagi Rara memeluk Mia. Dia tidak menyangka Mia akan melakukan hal sebesar ini. Perasaan mereka saat ini sama-sama mengakui bahwa mereka benar-benar memiliki sahabat yang terbaik.
“Ayo, aku ingin segera melihat kalian menikah.” Ucap Mia dengan melepas pelukan Rara.

Akhirnya Rara resmi menjadi milik Davin. Mia benar-benar bahagia melihat senyum mengembang di wajah kedua sahabatnya. Dia pun bisa pergi dengan tenang.


Tak selamanya manis
Pahit yang memanggil kerelaan
Yang membuahkan kesadaran
Kelak menguak manis yang teredam



Nur Aningsih

Bagikan

Jangan lewatkan

Bitter Sweet
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.