Lampu Merah Renungan
Ini
kisah tentang diriku,,
Suatu ketika ada seorang anak
laki-laki yang bersifat pemarah, untuk menghilangkan kebiasaan marah sang anak,
ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada anak itu untuk memakukan
sebuah paku di tembok belakang rumah setiap kali dia marah.
Hari pertama anak itu sudah
memakukan 48 paku di tembok belakang rumah, lalu secara bertahap jumlah itu
berkurang, dia mendapati bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada
memakukan paku ke tembok.
Akhirnya tibalah hari dimana anak
tersebut merasa sama sekali bisa mengendalikan amarahnya dan tidak cepat
kehilangan kesabarannya, dia memberitahukan hal ini kepada ayahnya yang
kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap kali dia marah.
Hari-hari
berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku
telah tercabut olehnya, lalu sang ayah menuntun anaknya menuju ke tembok
belakang rumah tersebut.
“Hmmm..., kamu telah berhasil dengan
baik anakku, tapi, lihatlah lubang-lubang di tembok ini, tembok ini tak akan
pernah sama seperti sebelumnya, ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan,
kata-katamu meninggalkan bekas seperti lubang ini.”
Di hati orang lain, kamu dapat
menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu tapi tidak peduli
beberapa kali kamu meminta maaf, luka itu akan tetap ada, dan luka karena
kata-kata adalah sama buruknya dengan hal fisik.
***
Sosok
ayah ataupun anak diatas bukanlah diriku yang sebenarnya, mereka hanya sosok
yang kujumpai dalam sebuah cerita di buku motivasi yang pernah kubaca saat SMA.
Kuakui cerita itu sangat menarik perhatianku namun pada akhirnya aku tak mampu
untuk menelaahnya dengan baik dalam kehidupanku sehari-hari.
Kisah
diriku yang sebenarnya baru saja dimulai.
Hari
itu, dari kejauhan lampu lalu lintas di perempatan itu masih menyala hijau, aku
segera menarik gas motorku lebihku kencang, tak mau terlambat, apalagi aku tahu
perempatan disitu cukup padat sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama.
Kebetulan
jalan di depannya agak lengang, lampu berganti kuning, hatiku berdebar semoga
aku bisa melewatinya segera, tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah
menyala.
Aku
bimbang, haruskah aku berhenti atau terus saja, “Ah, aku tak punya kesempatan
untuk menginjak rem mendadak,” pikirku sambil terus melaju.
Pritt!
Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintaku berhenti, aku
menepikan motorku agak menjauh sambil mengumpat dalam hati, dari kaca spion aku
melihat siapa polisi itu, wajahnya tak terlalu asing.
Hey,
itu kan Rafa, teman mainku semasa SMA dulu, hatiku agak lega.
“Hai,
Raf. Senang sekali ketemu kamu lagi.”
“Hai,
Diazz.” Tanpa senyum.
“Duh,
sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru, tunangan saya
sedang menanti saya bersama keluarganya di rumah.”
“Oh
ya?” Tampaknya Rafa ragu. “Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering
memperhatikanmu melintasi lampu merah di pesimpangan ini.”
Sepertinya
tidak sesuai harapan. Aku mulai menggerutu dalam hati. Aku punya kepentingan
yang benar-benar mendesak kali ini. Dan sebenarnya ini adalah salah satu
kelemahanku. Selalu merasa marah saat aku merasa orang lain tidak mengertikan
diriku.
“Tolong
keluarkan SIM.”
Dengan
ketus aku meyerahkan SIM lalu duduk kembali di atas motorku.
Sementara
Rafa menulis sesuatu di buku tilangnya, beberapa saat kemudian Rafa
menghampiriku dan memberikan surat tilang kepadaku lalu beranjak pergi.
Aku
mengambil surat tilang yang diberikan Rafa kepadaku. Tapi, hei apa ini.
Ternyata SIM-nya dikembalikan bersama sebuah nota, kenapa ia tidak menilangku,
lalu nota apa ini? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru aku membuka dan membaca
nota yang berisi tulisan tangan Rafa.
Halo Diazz,
Tahukah kamu, 4 tahun lalu
saat aku masih SMA aku masih memiliki seorang ibu. Sayang, beliau meninggal
tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah. Saat itu adik-adikku
masih kecil. Mereka masih belum pantas untuk kehilangan kasih sayang dari salah
satu orang tua mereka terutama seorang ibu.
Pengemudi itu dihukum
penjara selama 3 bulan. Begitu bebas ia bisa bertemu dengan sanak familinya
lagi, sedangkan keluarga kami, bayangkan seberapa sulitnya mengasuh adik-adikku
yang masih kecil-kecil, namun tak perduli seberapa susahnya ayahku menjadi
seorang single parent, beliau terus
berjuang mengayomi kami.
Ribuan kali kami mencoba
memaafkan pengemudi itu, betapa sulitnya, begitu juga kali ini. Maafkan aku
Diazz, berhati-hatilah dalam mengemudi.
-Rafa
Aku
terhenyak, aku segera meninggalkan motorku mencari Rafa, namun Rafa sudah meninggalkan
pos jaganya entah kemana. Sepanjang jalan pulang aku mengemudi perlahan dengan
hati tak tentu sambil berharap kesalahanku dimaafkan.
Hari
ini aku belajar bila tak semua kisah sukses ataupun kisah baik seseorang yang
kita baca atau yang kita dengarkan dapat kita telaah dengan baik tanpa perlu
kita sendiri yang mengalaminya. Tak selamanya juga pengertian kita harus sama
dengan pengertian orang lain. Bisa jadi suka kita tak lebih dari duka kawan
kita. Hidup ini sangat berharga. Jalanilah dengan penuh hati-hati serta
lakukanlah sesuatu dengan setulus hati.
By: Ilham Diazz Randiall
Bagikan
4/
5
Oleh
Unknown

3 komentar
Tulis komentarJudule kurang menarik eh
Replybagus. renungannya simple, sering terjadi, dan ngena di hati.
Replyperlu beberapa perbaikan dalam penulisan pada paragraf ke-8 (kalau nggak keliru :) )
seperti....
motorku lebihku kencang. seharusnya ->> motorku lebih kencang.
perempatan disitu. seharusnya ->> perempatan di situ.
^_^
terima kasih... :)
Reply