Bukan Primadona Tapi Penting Bagi Kita
Menurut Ys. Gunadi dalam Himpunan Istilah Komunikasi, Public
Speaking adalah komunikasi yang dilakukan secara lisan tentang suatu hal atau
topik di hadapan banyak orang. Tujuannya antara lain untuk memengaruhi, mengajak,
mendidik, mengubah opini, memberikan penjelasan dan memberikan informasi kepada
masyarakat di tempat tertentu. Public speaking sangat berbeda dengan percakapan
biasa karena dalam public speaking kita tidak hanya membicarakan tentang obyek
tertentu tanpa memiliki tujuan yang jelas, dalam public speaking selalu ada
informasi dan hal penting yang akan disampaikan, memiliki struktur yang baik,
memiliki batasan waktu dan pendengar (audience) tidak bisa sembarangan
memberikan komentar.
Saat ini public speaking masih belum
menjadi ‘primadona’ dalam masyarakat, banyak masyarakat yang tidak mengindahkan
manfaat dari public speaking meskipun beberapa instansi telah memberlakukan
public speaking menjadi salah satu syarat dalam penerimaan karyawan contohnya pada
bagian public relation (PR). Sebenarnya bukan hanya dalam dunia kerja yang
membutuhkan keahlian berbicara di depan umum tetapi juga dalam dunia pendidikan
utamanya perguruan tinggi keahlian tersebut sangat diperlukan, mengingat saat
ini model pembelajaran di Indonesia telah berubah dari Teacher Centered
Learning menjadi Student Centered Learning dimana keaktifan siswa lebih
diutamakan sehingga banyak pengajar yang memberikan tugas diskusi, tutor sebaya
dan presentasi. Jika berbicara beberapa hal tersebut pasti erat kaitannya
dengan berbicara di depan umum.
Menurut survey yang telah dilakukan
oleh The People’s Almanac Book terhadap 3000 warga Amerika tentang apa yang
paling ditakuti oleh mereka adalah berbicara di depan publik dengan jumlah 630
jiwa atau sekitar 21% disusul dengan takut akan ketinggian dengan jumlah 510
jiwa yaitu 17% dan diperingkat ketiga adalah ketakutan akan hama dan serangga
dengan jumlah 360 jiwa atau 12% selanjutnya masih ada ketakutan akan masalah
keuangan, air yang dalam, penyakit, kematian dan takut akan terbang, tetapi
persentase dari ketakutan-ketakutan tersebut tidak melebihi ketakutan akan
berbicara di depan publik.
Dalam mengatasi masalah berbicara di
depan umum ini banyak dibuka pelatihan public speaking baik oleh instansi untuk
mempersiapkan generasi muda yang tidak hanya berwawasan luas tetapi juga
memiliki keberanian dalam mengungkapkan pendapat dan berbagi ilmu kepada
masyarakat luas. Universitas Jember juga tak kalah bersemangat dalam membangun
generasi yang tak gentar saat berhadapan dengan publik sehingga turut
memberikan pelatihan public speaking salah satunya untuk mahasiswa bidik misi
2015 pada 28 dan 29 Novemberr 2015, dalam pelatihan tersebut hadir beberapa
pembicara yang merupakan dosen dari fakultas-fakultas yang ada di Universitas
Jember. Salah satu yang bisa diingat adalah materi yang diberikan oleh Bapak
Wildan Jatmiko dosen Fakultas Pertanian, beliau mengungkapkan bahwa berbicara
di depan umum bisa menjadi batu loncatan menuju kehidupan yang lebih baik, baik
dalam belajar, keuangan, kehormatan dalam masyarakat maupun dalam karier di
masa mendatang. Di perguruan tinggi yang seharusnya sudah memiliki kemampuan
dan keberanian dalam public speaking justru masih tetap memiliki rasa takut dan
tidak percaya diri ketika harus berbicara di depan umum sehingga suara menjadi
bergetar, jari gemetar, suara tidak jelas lalu berkeringat saat akan berbicara.
Menurut Bapak Wildan, beberapa cara
yang perlu dilakukan oleh mahasiswa ataupun seseorang dalam mengatasi rasa
takut dan tidak percaya diri dalam public speaking adalah mempersiapkan fisik
dengan istirahat yang cukup, olahraga secukupnya, yakinkan diri untuk siap
menghadapi kenyataan dan memilih pakaian serta asesoris yang menunjang
penampilan. Selain persiapan fisik juga diperlukan persiapan materi dan psikis.
Dalam mengatasi kecemasan saat akan berbicara di depan umum maka selalu rajin
berlatih, fokus pada apa yang akan disampaikan pada audience, tema dan bahasa
yang digunakan disesuaikan dengan pendidikan audience jangan terlalu
mengeksplore bahasa terlalu tinggi hingga tidak dimengerti oleh audience.
Apabila beberapa solusi tersebut dapat dilakukan dengan baik maka akan muncul
kesiapan dalam diri untuk berbicara di depan umum.
Banyak tokoh yang mendunia karena
kemampuan public speaking mereka yang mampu menggerakkan jiwa orang lain untuk
bertindak positif, contohnya Bung Tomo dalam pidatonya yang mampu menggerakkan
arek-arek Suroboyo pada tanggal 10 November 1945 untuk melawan Inggris yang
mengultimatum warga Surabaya dan Ronald Reagan yang merupakan komunikator besar
dunia tetapi lebih dikenal sebagai Presiden Amerika ke 40 dalam pidatonya tahun
1987 menuntut Gorbachev (pemimpin Uni Soviet) untuk membuka gerbang Brandenburg
yang memisahkan Jerman Barat dan Jerman Timur, akhirnya pada tahun 1989 tembok
Berlin berhasil diruntuhkan, dari berbagai gencatan senjata ternyata yang
membantu menggugah jiwa untuk meruntuhkan tembok tersebut hanyalah pidato yang
benar-benar mengena bagi pendengarnya.
Public speaking bukanlah kemampuan
yang bisa kita pelajari tanpa adanya latihan yang cukup apabila kita bukanlah
orang yang memang memiliki bakat tersebut. Untuk mengembangkan public speaking
perlu adanya ‘jam terbang’ yang tinggi dan latihan yang lebih serius. Dalam
public speaking kita sebaiknya dapat mengendalikan rasa takut dan menjadikan
rasa takut tersebut sebagai pendorong untuk lebih mempersiapkan diri dalam
menghadapi banyak orang. Kurangnya percaya diri jika tidak mampu dihilangkan
entah karena kurangnya kemauan atau memang susah maka jadikanlah hal itu
sebagai penekan ego dan kesombongan diri.
Elma
Ariella Khoriqul Hayumi
Bagikan
4/
5
Oleh
Unknown
