Minggu, 29 November 2015

Bukan Primadona Tapi Penting Bagi Kita

Menurut Ys. Gunadi dalam Himpunan Istilah Komunikasi, Public Speaking adalah komunikasi yang dilakukan secara lisan tentang suatu hal atau topik di hadapan banyak orang. Tujuannya antara lain untuk memengaruhi, mengajak, mendidik, mengubah opini, memberikan penjelasan dan memberikan informasi kepada masyarakat di tempat tertentu. Public speaking sangat berbeda dengan percakapan biasa karena dalam public speaking kita tidak hanya membicarakan tentang obyek tertentu tanpa memiliki tujuan yang jelas, dalam public speaking selalu ada informasi dan hal penting yang akan disampaikan, memiliki struktur yang baik, memiliki batasan waktu dan pendengar (audience) tidak bisa sembarangan memberikan komentar.
            Saat ini public speaking masih belum menjadi ‘primadona’ dalam masyarakat, banyak masyarakat yang tidak mengindahkan manfaat dari public speaking meskipun beberapa instansi telah memberlakukan public speaking menjadi salah satu syarat dalam penerimaan karyawan contohnya pada bagian public relation (PR). Sebenarnya bukan hanya dalam dunia kerja yang membutuhkan keahlian berbicara di depan umum tetapi juga dalam dunia pendidikan utamanya perguruan tinggi keahlian tersebut sangat diperlukan, mengingat saat ini model pembelajaran di Indonesia telah berubah dari Teacher Centered Learning menjadi Student Centered Learning dimana keaktifan siswa lebih diutamakan sehingga banyak pengajar yang memberikan tugas diskusi, tutor sebaya dan presentasi. Jika berbicara beberapa hal tersebut pasti erat kaitannya dengan berbicara di depan umum.
            Menurut survey yang telah dilakukan oleh The People’s Almanac Book terhadap 3000 warga Amerika tentang apa yang paling ditakuti oleh mereka adalah berbicara di depan publik dengan jumlah 630 jiwa atau sekitar 21% disusul dengan takut akan ketinggian dengan jumlah 510 jiwa yaitu 17% dan diperingkat ketiga adalah ketakutan akan hama dan serangga dengan jumlah 360 jiwa atau 12% selanjutnya masih ada ketakutan akan masalah keuangan, air yang dalam, penyakit, kematian dan takut akan terbang, tetapi persentase dari ketakutan-ketakutan tersebut tidak melebihi ketakutan akan berbicara di depan publik.
            Dalam mengatasi masalah berbicara di depan umum ini banyak dibuka pelatihan public speaking baik oleh instansi untuk mempersiapkan generasi muda yang tidak hanya berwawasan luas tetapi juga memiliki keberanian dalam mengungkapkan pendapat dan berbagi ilmu kepada masyarakat luas. Universitas Jember juga tak kalah bersemangat dalam membangun generasi yang tak gentar saat berhadapan dengan publik sehingga turut memberikan pelatihan public speaking salah satunya untuk mahasiswa bidik misi 2015 pada 28 dan 29 Novemberr 2015, dalam pelatihan tersebut hadir beberapa pembicara yang merupakan dosen dari fakultas-fakultas yang ada di Universitas Jember. Salah satu yang bisa diingat adalah materi yang diberikan oleh Bapak Wildan Jatmiko dosen Fakultas Pertanian, beliau mengungkapkan bahwa berbicara di depan umum bisa menjadi batu loncatan menuju kehidupan yang lebih baik, baik dalam belajar, keuangan, kehormatan dalam masyarakat maupun dalam karier di masa mendatang. Di perguruan tinggi yang seharusnya sudah memiliki kemampuan dan keberanian dalam public speaking justru masih tetap memiliki rasa takut dan tidak percaya diri ketika harus berbicara di depan umum sehingga suara menjadi bergetar, jari gemetar, suara tidak jelas lalu berkeringat saat akan berbicara.
            Menurut Bapak Wildan, beberapa cara yang perlu dilakukan oleh mahasiswa ataupun seseorang dalam mengatasi rasa takut dan tidak percaya diri dalam public speaking adalah mempersiapkan fisik dengan istirahat yang cukup, olahraga secukupnya, yakinkan diri untuk siap menghadapi kenyataan dan memilih pakaian serta asesoris yang menunjang penampilan. Selain persiapan fisik juga diperlukan persiapan materi dan psikis. Dalam mengatasi kecemasan saat akan berbicara di depan umum maka selalu rajin berlatih, fokus pada apa yang akan disampaikan pada audience, tema dan bahasa yang digunakan disesuaikan dengan pendidikan audience jangan terlalu mengeksplore bahasa terlalu tinggi hingga tidak dimengerti oleh audience. Apabila beberapa solusi tersebut dapat dilakukan dengan baik maka akan muncul kesiapan dalam diri untuk berbicara di depan umum.
            Banyak tokoh yang mendunia karena kemampuan public speaking mereka yang mampu menggerakkan jiwa orang lain untuk bertindak positif, contohnya Bung Tomo dalam pidatonya yang mampu menggerakkan arek-arek Suroboyo pada tanggal 10 November 1945 untuk melawan Inggris yang mengultimatum warga Surabaya dan Ronald Reagan yang merupakan komunikator besar dunia tetapi lebih dikenal sebagai Presiden Amerika ke 40 dalam pidatonya tahun 1987 menuntut Gorbachev (pemimpin Uni Soviet) untuk membuka gerbang Brandenburg yang memisahkan Jerman Barat dan Jerman Timur, akhirnya pada tahun 1989 tembok Berlin berhasil diruntuhkan, dari berbagai gencatan senjata ternyata yang membantu menggugah jiwa untuk meruntuhkan tembok tersebut hanyalah pidato yang benar-benar mengena bagi pendengarnya.
            Public speaking bukanlah kemampuan yang bisa kita pelajari tanpa adanya latihan yang cukup apabila kita bukanlah orang yang memang memiliki bakat tersebut. Untuk mengembangkan public speaking perlu adanya ‘jam terbang’ yang tinggi dan latihan yang lebih serius. Dalam public speaking kita sebaiknya dapat mengendalikan rasa takut dan menjadikan rasa takut tersebut sebagai pendorong untuk lebih mempersiapkan diri dalam menghadapi banyak orang. Kurangnya percaya diri jika tidak mampu dihilangkan entah karena kurangnya kemauan atau memang susah maka jadikanlah hal itu sebagai penekan ego dan kesombongan diri.


Elma Ariella Khoriqul Hayumi

Bagikan

Jangan lewatkan

4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.