Aku menapakan kakiku pada jajaran trotoar jalan pada tempat yang biasa orang katakan sebagai sebuah kota metropolitan. Namun yang tampak dari hal yang telah sering aku lihat, tempat ini tak lebih dari sebuah wadah penampungan dari banyaknya kaum individualis yang tak perduli antara yang satu dengan yang lain. Pencopetan, pemalakan, pungutan liar, tawuran, serta bullying sudah pernah aku melihatnya. Mereka melukai dan menyakiti makhluk yang kodratnya diciptakan sama jenisnya dengan mereka. Tak peduli tua maupun muda, kaya ataupun miskin, mereka tak dapat lepas dari hal-hal yang sebagian besar melanggar hak asasi manusia. Banyak orang menyaksikan kejadian-kejadian semacam itu. Pada awalnya mereka berusaha untuk mencegah hal tersebut, namun lambat laun mereka tak berbuat apapun walau kejadian semacam itu terjadi di depan kedua bola mata mereka yang tentunya masih berfungsi dengan baik. Mereka seolah tak peduli dengan kejadian itu dan tak mau repot-repot ikut campur.
Namun
apa aku juga berhak mengatakannya? Sedangkan aku juga termasuk dalam jajaran
orang yang membutakan mata mereka saat kejadian itu terjadi. Bukannya aku tak
mau berusaha untuk mencegah hal tersebut, namun semakin lama aku berusaha
semakin banyak pula kejadian semacam itu terjadi sehingga mengantarkanku pada
sebuah titik jenuh. Namun titik jenuh tersebut malah mendorongku masuk kedalam
satu dari banyak kejadian tersebut. Orang mengatakan bahwa masa putih abu-abu
merupakan masa terindah dan paling sulit untuk dilupakan. Aku setuju untuk
bagian kedua dari perkataan mereka, namun tidak untuk bagian pertama.
Entah
karena alasan apa aku sampai pada situasi seperti ini. Mungkin karena orang
tuaku yang sangat kusayang bukan merupakan orang yang mereka katakan sebagai
milyoner ataupun bilyoner. Mungkin karena aku yang dapat bersekolah dengan
bantuan atas prestasiku yang membuat bangga orang tuaku. Atau mungkin karena gayaku
berpakaianku yang sederhana namun mereka anggap sebagai kampungan. Apapun itu
aku tidak tahu secara pasti.
Saat
itu aku tengah menikmati hari pertama aku mengenakan seragam putih abu-abu
selepas masa orientasi sekolah. Hari itu berjalan dengan monoton sampai tiba
pada saatnya istirahat. Seperti sekolah di kota metropolitan lainnya,
sepertinya bullying telah marak dilakukan oleh para siswa yang seharusnya telah
mendapatkan didikan untuk menjunjung tinggi karakter-karakter bangsa. Aku
melihat segerombol siswa laki-laki mengolok-olok seorang siswa yang mereka
sebut sebagai nerd. Aku yang saat itu menjadi salah seorang spektator
yang berusaha untuk tidak peduli malah memperhatikan sang korban dengan mata
yang memancarkan pantulan prihatin. Mungkin karena keberuntunganku hari itu
sedang tidak baik, mereka menyadari aku dan membuatku sebagai sasaran mereka
sejak saat itu.
Setelahnya,
hari-hariku bagaikan neraka diatas bumi. Mereka mengolokku, merebut tugasku,
menyobek bukuku, membanting handphone-ku, dan masih banyak lagi siksaan
mental maupun fisik yang mereka berikan. Orang tuaku yang menyadari jika diriku
mulai berubah bertanya apa yang terjadi kepadaku. Pada awalnya aku diam dan
mengunci mulutku rapat-rapat bersikeras untuk tidak menyeret orang yang telah
membesarkanku pada masalah pribadiku. Namun lama-kelamaan mereka menekanku
untuk segera memberikan mereka jawaban atas pertanyaan mereka yang sama. ‘Apa
yang terjadi padamu?’ selalu mereka ucapkan dengan sangat lembut seolah mereka takut
akan melukaiku dengan perkataan mereka, namun mereka memang melukai hatiku
dengan pertanyaan itu. Perasaan bersalah selalu menghampiriku setiap kali aku
diam dan tak menjawab mereka.
Setelah
merasa tidak tahan atas perasaan bersalah yang selalu menumpuk di sudut hatiku,
akhirnya aku menumpahkan segala permasalahanku pada mereka. Mereka sangat murka
setelah mendengar perkataanku. Mereka mendatangi sekolahku dan menghadap kepala
sekolahku, namun tentu saja karena kurangnya bukti mereka tidak dapat divonis.
Kejadian itu membuat hidupku semakin menderita. Siksaan-siksaan selalu mereka
berikan bahkan semakin parah dari yang dulu. Aku berusaha untuk tetap tegar dan
menguatkan diri. Aku harus bisa bertahan menghadapi mereka semua. Aku tidak
boleh memberikan mereka kepuasan atas segala siksaan dengan menangis dan
mengeluh.
Namun
mereka tetap mengerjaiku tanpa ada rasa bosan sedikitpun. Aku tahu kalau ini
adalah balasan bagiku yang mulai menjadi orang buta pada penderitaan orang
lain. Aku tahu ini pasti balasan karena memalingkan muka dari orang yang
membutuhkan. Aku sadar bahwa aku pantas mendapatkan ini. Namun tetap saja ada
sedikit perasaanku yang merasa bahwa ini semua tidaklah adil buatku.
Penyiksaan-penyiksaan
itu mengantarkanku pada tempat ini. Kupandang pemandangan tempat yang seenaknya
mereka sebut sebagai kota metropolitan. Padahal bagiku tempat ini hanyalah
sebuah penjara tanpa adanya habis masa tahanan. Kupersiapkan diriku untuk
segera pergi dari tempat ini. Kulangkahkan satu kakiku kedepan dan aku merasakan
hembusan angin menerpa wajahku. Selintas pikiran merasuk kepalaku. Apa peduli
mereka tentang hidupku? Apa peduli mereka jika aku tak dapat menyelesaikan
pendidikanku? Apa peduli mereka jika aku selalu mendapat hukuman dari bapak ibu
guru tercinta? Dan apa peduli mereka jika aku....
...
...
....
Mengambil nyawaku sendiri?
Oleh: Dina
Bagikan
Mengambil nyawaku sendiri ?
4/
5
Oleh
Unknown

1 komentar:
Tulis komentarcerpen yang asyik, menceritakan sebuah kisah yang hampir selalu terjadi bagi kita yang telah melewati masa-masa SMA, cerpen yang sangat dekat dengan kehidupan kita. klimaks nya dapat, ditunggu karya selanjutnya :D
Reply