Selasa, 17 November 2015

Mengambil nyawaku sendiri ?


Aku menapakan kakiku pada jajaran trotoar jalan pada tempat yang biasa orang katakan sebagai sebuah kota metropolitan. Namun yang tampak dari hal yang telah sering aku lihat, tempat ini tak lebih dari sebuah wadah penampungan dari banyaknya kaum individualis yang tak perduli antara yang satu dengan yang lain. Pencopetan, pemalakan, pungutan liar, tawuran, serta bullying sudah pernah aku melihatnya. Mereka melukai dan menyakiti makhluk yang kodratnya diciptakan sama jenisnya dengan mereka. Tak peduli tua maupun muda, kaya ataupun miskin, mereka tak dapat lepas dari hal-hal yang sebagian besar melanggar hak asasi manusia. Banyak orang menyaksikan kejadian-kejadian semacam itu. Pada awalnya mereka berusaha untuk mencegah hal tersebut, namun lambat laun mereka tak berbuat apapun walau kejadian semacam itu terjadi di depan kedua bola mata mereka yang tentunya masih berfungsi dengan baik. Mereka seolah tak peduli dengan kejadian itu dan tak mau repot-repot ikut campur.
            Namun apa aku juga berhak mengatakannya? Sedangkan aku juga termasuk dalam jajaran orang yang membutakan mata mereka saat kejadian itu terjadi. Bukannya aku tak mau berusaha untuk mencegah hal tersebut, namun semakin lama aku berusaha semakin banyak pula kejadian semacam itu terjadi sehingga mengantarkanku pada sebuah titik jenuh. Namun titik jenuh tersebut malah mendorongku masuk kedalam satu dari banyak kejadian tersebut. Orang mengatakan bahwa masa putih abu-abu merupakan masa terindah dan paling sulit untuk dilupakan. Aku setuju untuk bagian kedua dari perkataan mereka, namun tidak untuk bagian pertama.
            Entah karena alasan apa aku sampai pada situasi seperti ini. Mungkin karena orang tuaku yang sangat kusayang bukan merupakan orang yang mereka katakan sebagai milyoner ataupun bilyoner. Mungkin karena aku yang dapat bersekolah dengan bantuan atas prestasiku yang membuat bangga orang tuaku. Atau mungkin karena gayaku berpakaianku yang sederhana namun mereka anggap sebagai kampungan. Apapun itu aku tidak tahu secara pasti.
            Saat itu aku tengah menikmati hari pertama aku mengenakan seragam putih abu-abu selepas masa orientasi sekolah. Hari itu berjalan dengan monoton sampai tiba pada saatnya istirahat. Seperti sekolah di kota metropolitan lainnya, sepertinya bullying telah marak dilakukan oleh para siswa yang seharusnya telah mendapatkan didikan untuk menjunjung tinggi karakter-karakter bangsa. Aku melihat segerombol siswa laki-laki mengolok-olok seorang siswa yang mereka sebut sebagai nerd. Aku yang saat itu menjadi salah seorang spektator yang berusaha untuk tidak peduli malah memperhatikan sang korban dengan mata yang memancarkan pantulan prihatin. Mungkin karena keberuntunganku hari itu sedang tidak baik, mereka menyadari aku dan membuatku sebagai sasaran mereka sejak saat itu.
           Setelahnya, hari-hariku bagaikan neraka diatas bumi. Mereka mengolokku, merebut tugasku, menyobek bukuku, membanting handphone-ku, dan masih banyak lagi siksaan mental maupun fisik yang mereka berikan. Orang tuaku yang menyadari jika diriku mulai berubah bertanya apa yang terjadi kepadaku. Pada awalnya aku diam dan mengunci mulutku rapat-rapat bersikeras untuk tidak menyeret orang yang telah membesarkanku pada masalah pribadiku. Namun lama-kelamaan mereka menekanku untuk segera memberikan mereka jawaban atas pertanyaan mereka yang sama. ‘Apa yang terjadi padamu?’ selalu mereka ucapkan dengan sangat lembut seolah mereka takut akan melukaiku dengan perkataan mereka, namun mereka memang melukai hatiku dengan pertanyaan itu. Perasaan bersalah selalu menghampiriku setiap kali aku diam dan tak menjawab mereka.
            Setelah merasa tidak tahan atas perasaan bersalah yang selalu menumpuk di sudut hatiku, akhirnya aku menumpahkan segala permasalahanku pada mereka. Mereka sangat murka setelah mendengar perkataanku. Mereka mendatangi sekolahku dan menghadap kepala sekolahku, namun tentu saja karena kurangnya bukti mereka tidak dapat divonis. Kejadian itu membuat hidupku semakin menderita. Siksaan-siksaan selalu mereka berikan bahkan semakin parah dari yang dulu. Aku berusaha untuk tetap tegar dan menguatkan diri. Aku harus bisa bertahan menghadapi mereka semua. Aku tidak boleh memberikan mereka kepuasan atas segala siksaan dengan menangis dan mengeluh.
            Namun mereka tetap mengerjaiku tanpa ada rasa bosan sedikitpun. Aku tahu kalau ini adalah balasan bagiku yang mulai menjadi orang buta pada penderitaan orang lain. Aku tahu ini pasti balasan karena memalingkan muka dari orang yang membutuhkan. Aku sadar bahwa aku pantas mendapatkan ini. Namun tetap saja ada sedikit perasaanku yang merasa bahwa ini semua tidaklah adil buatku.
            Penyiksaan-penyiksaan itu mengantarkanku pada tempat ini. Kupandang pemandangan tempat yang seenaknya mereka sebut sebagai kota metropolitan. Padahal bagiku tempat ini hanyalah sebuah penjara tanpa adanya habis masa tahanan. Kupersiapkan diriku untuk segera pergi dari tempat ini. Kulangkahkan satu kakiku kedepan dan aku merasakan hembusan angin menerpa wajahku. Selintas pikiran merasuk kepalaku. Apa peduli mereka tentang hidupku? Apa peduli mereka jika aku tak dapat menyelesaikan pendidikanku? Apa peduli mereka jika aku selalu mendapat hukuman dari bapak ibu guru tercinta? Dan apa peduli mereka jika aku....
...
...
....

Mengambil nyawaku sendiri?

Oleh: Dina


Bagikan

Jangan lewatkan

Mengambil nyawaku sendiri ?
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.

1 komentar:

Tulis komentar
avatar
19 November, 2015 07:40

cerpen yang asyik, menceritakan sebuah kisah yang hampir selalu terjadi bagi kita yang telah melewati masa-masa SMA, cerpen yang sangat dekat dengan kehidupan kita. klimaks nya dapat, ditunggu karya selanjutnya :D

Reply